free page hit counter
Ghulul di Dunia Kerja
Praktek ghulul di dunia kerja. | goodscoop.id

Ghulul, Praktik Curang di Dunia Kerja yang Dianggap Biasa

Artikel diperbarui pada 4 Desember 2022.

Businessman checking the envelope given by his partner in dark room Premium Photo
Ghulul, praktek culas dunia kerja tapi sering dilakukan.| @atstockproduction – freepik.com

Di artikel sebelumnya pernah disinggung ghulul dalam dunia kerja.

Buat kamu yang belum pernah dengar kata ghulul, di artikel ini akan dijelaskan pengertian ghulul dalam dunia kerja dan pengertiannya serta solusi yang bisa dilakukan agar tidak terjatuh dalam praktik ghulul.

Praktik ghulul terkadang terjadi karena ketidakpahaman seseorang terhadap konsekwensi amanah dari pekerjaan yang diembannya.

Oleh karena hal tersebut bisa saja terjadi dalam lingkup kerja kamu dan agar lebih berhati-hati supaya tidak terjerumus tanpa kesengajaan, berikut penjelasannya.

Baca Juga: Sudah Punya Gaji? Ini 6 Tips Supaya Uang Kerja Keras Kamu Awet

Apa Maksud Ghulul?

Imam Nawawi menjelaskan makna ghulul: “Asal arti ghulul adalah khianat secara mutlak, kemudian istilah ghulul khusus digunakan dengan arti khianat dalam urusan ghanimah”. [Syarh Muslim, 4/216]

Ghanimah adalah harta rampasan perang dan biasa terjadi di zona peperangan, harta tersebut kemudian dikumpulkan dalam satu tempat dan dibagi oleh pemimpinnya.

Jika ada yang menyembunyikan harta untuk diri sendiri maka praktik tersebut disebut ghulul.

Baca Juga: Kerja Freelance vs Full Time? Simak Dulu Pahit-Manisnya!

Ghulul dalam Dunia Kerja

Tentunya praktik pencurian ghanimah sudah tidak terjadi lagi di zaman modern ini. Lantas apakah praktik ghulul sudah tidak ada lagi?

Syeikh Muhammad bin Shalih Utsaimin menjelaskan: “Hadiah untuk pegawai itu termasuk ghulul.”

Tegas beliau “Seperti jika seseorang pejabat pemerintah, kemudian ada orang lain memiliki hubungan dengan tugas tersebut memberikan hadiah, maka itu termasuk ghulul. Pejabat itu tidak boleh mengambil hadiah itu sedikitpun, walaupun itu diberikan dengan senang hati.”

“Misalnya: Anda berdinas pada satu instansi, kemudian kepala bagian atau para pegawainya diberi hadiah, maka haram bagi mereka mengambilnya.” [Majmû’ Fatâwâ wa Rasâil al-‘Utsaimin, 18/359]

Jadi memberikan atau menerima sesuatu manfaat baik sukarela atau terpaksa bisa jatuh dalam perbuatan ghulul.

Baca Juga: Cara Jawab Pertanyaan Tujuan Kerja Saat Wawancara dengan HRD

Beda Apresiasi dan Gratifikasi

Dalam dunia kerja bahwa tidak semua memberi dan menerima disebut ghulul, ada kalanya pemberian diperoleh karena sebab prestasi orang yang menerima dan ini menjadi boleh.

Semisal seseorang berprestasi memecahkan masalah atau menemukan ide baru, kemudia dia berhak mendapatkan sejumlah bonus atau kenaikan pangkat dan jabatan terkait prestasi yang dia dapat, hal seperti ini boleh dan disebut apresiasi.

Baca Juga: Lamaran Kerja Sering Ditolak? Baca Ini Dijamin Langsung Semangat

Adapun praktik gratifikasi adalah pemberian yang berkaitan pekerjaan dan amanah seseorang untuk melancarkan atau sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan tersebut.

Jadi kamu harus bisa membedakan mana pemberian yang jenisnya apresiasi dan gratifikasi.

Apresiasi biasanya diberikan oleh orang yang pangkat dan kedudukannya lebih tinggi sedang gratifikasi biasanya diberikan oleh orang dengan derajat sama atau lebih rendah.

Batasan Ghulul

Jika diperhatikan lebih detail maka praktik ghulul ini menjamur di hampir seluruh kegiatan masyarakat dan pemerintahan, seperti:

  • seorang murid memberi hadiah kepada gurunya,
  • seorang mahasiswa memberi hadiah kepada dosen pembimbing skripsinya,
  • seorang tetangga memberi sesuatu kepada tetangga lainnya yang bekerja di sebuah instansi untuk mengurus keperluan di instansi tempat dia bekerja,
  • seorang kepala jabatan menerima angpao dari masyarakan dan bawahannya dan
  • berbagai jenis praktik pemberian hadiah kepada seseorang yang berkaitan dengan pekerjaan yang diembannya.

Baca Juga: Hei, Kamu Millenial, Baca Ini Supaya Lebih Semangat Kerja

Imam Ibn Hajar menjelaskan: “Karena sebab jabatannya tersebutlah dia mendapatkan hadiah, andai dia berdiam diri di rumah tentu tidak akan mendapatkan apapun. Dia tidak boleh menganggap hadiah tadi halal hanya karena diberikan kepadanya. Karena sesungguhnya hadiah tadi datang karena sebab pekerjaannya yang sekarang.” (Fathul Bari, 12/394)

“Karena sebab jabatannya tersebutlah dia mendapatkan hadiah, andai dia berdiam diri di rumah tentu tidak akan mendapatkan apapun.” (Ibn Hajar Al Asqolani)

Solusi Hadiah yang Berkaitan Dengan Pekerjaan Selain Gaji

Jika memang tidak mungkin untuk menolak pemberian dari orang lain yang berkaitan dengan pekerjaan, maka seseorang yang diberi bisa melakukan beberapa hal berikut:

  • Menjelaskan bahwa dirinya tidak menerima hadiah selain daripada gaji yang telah ditetapkan
  • Menerima hadiah yang diberikan kepadanya tetapi dia gunakan untuk kepentingan bersama dan diketahui oleh pemberi, jika dia guru bisa membawa hadiah yang diberikan ke dalam kelas dan mempergunakannya bersama-sama dengan para murid
  • Meminta izin kepada atasan apakah diperbolehkan menerima hadia selain gaji atau tidak
  • Menjelaskan kepada pihak pemberi agar memberikan hadiah melalui perantara atasan tempat dia bekerja dan kemudian atasan memberikan hadiah tersebut kepada yang bersangkutan sebagai bentuk apresiasi jika memang berhak
  • Jika masih terpaksa tidak mampu menolak hadiah maka pihak penerima jangan sampai condong hatinya kepada pemberi, sehingga tidak bersikap adil terkait hak dan kewajiban orang lain dan lebih mendahulukan orang yang memberi hadiah
  • Jika dia lebih condong sikpanya kepada pemberi hadiah maka jatuh hukum suap dan dilarang menerima hadiah tersebut

Baca Juga: Peran Dana Pensiun untuk Karyawan & Cara Kelolanya

Hati-hati dan Hindari

Ghulul tidak selalu berkaitan dengan menerima dan memberi hadiah, tapi dengan khianat kepada amanat yang diemban, seseorang bisa terjatuh dalam hal ghulul.

Misanya saja menggunakan fasilitas umum untuk keperluan pribadi, keluar dan pulang sebelum jam kerja usai, menggunakan wifi kantor untuk belanja online dan bermedsos.

Jika hal-hal di atas tidak diizinkan oleh atasan bisa terjatuh dalam perbuatan ghulul.

Debu-debu fitnah seperti itu memang susah dihindari dan tanpa sadar terjatuh ke dalam perbuatan tersebut, kamu bisa memperbanyak sedekah agar harta kamu menjadi berkah dan tentunya diiringi dengan taubat dan meminta kehalalan.

Baca Juga: Uang Riba Bagi Hasil dari Bank, Digunakan atau Dibuang?

Supaya kamu lebih hati-hati, perhatikan tiga hal ini:

  1. Jangan menggunakan materi, peralatan, program komputer, dan alat-alat milik perusahaan atau kantor
  2. Tidak dilakukan di jam kerja, karena jam kerja adalah digunakan untuk melakukan pekerjaan yang diamanahkan kepada kamu. Jika ingin melakukan jual-beli online, lakukan di luar jam kerja
  3. Jika ingin mencari penghasilan tambahan, jangan memanfaatkan konsumen dan jaringan milik perusaahan tempat kamu bekerja
  4. Melaporkan kelebihan pembayaran jika kamu merasa itu bukan hak mu

“Tidak akan masuk surga, daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram.” (Tirmidzi 558)

Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Menabung atau Investasi? Ini Pilihan Tepat Mapan Finansial Sejak Muda