free page hit counter

Ciri-ciri Harta yang Berkah

Artikel diperbarui pada 3 Juni 2021.

Mencari harta. | OLLYY_FREEPIK

Menjadi kaya bahkan kaya raya itu bukanlah tercela, bahkan bisa menjadi sarana kebaikan yang banyak. Kekayaan juga merupakan keutamaan yang tidak Allah berikan kepada orang miskin. Di saat orang miskin melakukan banyak ibadah dan amal shalih, orang kaya juga bisa melakukan hal yang sama. Orang miskin melakukan shalat malam, puasa sunnah, berdzikir atau berjihad maka orang kaya juga mampu melakukannya. Tapi di saat orang kaya melakukan sedekah dengan harta yang mereka miliki, orang miskin belum tentu mampu melakukannya. Inilah keistimewaan menjadi orang kaya yang shalih.

Ketika kamu saat ini sudah kaya dan atau berniat menjadi kaya dengan usaha yang sedang kamu rintis, jangan sampai kekayayaanmu menjadi mata pisau yang suatu saat akan mengirismu. Karena menjadi kaya juga butuh ilmu.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, kaya dan menyembunyikan amalan kebaikannya. (HR. Muslim)

Banyak Para Sahabat Nabi yang Kaya

Di lain kesempatan Rasulullah menjelaskan bahwa kefakiran mampu menjerembabkan seseorang ke dalam jurang kekafiran. Oleh karenanya sebagai seorang muslim yang baik kita dianjurakan untuk selalu aktif dengan kegiatan bermanfaat juga menghasilkan dan jangan sampai berpangku tangan, sekalipun dengan profesi sederhana mencari kayu bakar dan menjualnya di pasar.

Para Sahabat adalah orang yang tidak hanya rajin beramal shalih tapi mereka juga rajin berkarya. Kesungguhan mereka dalam berusaha bahkan mengantarkan beberapa di antara mereka menjadi orang Super Kaya.

Seperti Sahabat Nabi yang bernama Abdurrohman Bin Auf, jumlah kekayaan salah satu Sahabat yang dapat jaminan surga ini mengalahkan jumlah kekayaan beberapa orang terkaya di Bumi saat ini.  Elon Musk (Rp 2.517 T,) Jeff Bezos (Rp 2.677 T) dan Bill gates (Rp 1.857 T) bahkan jumlah kekayaan mereka ada yang berupa saham dan aset.

Menurut Dr. Yusuf Bin Ahmad al Qasim sebagaimana dikutip oleh Dewan Syariah Nasional MUI dalam artikelnya menyebutkan bahwa jumlah kekayaan Abdurroman Bin Auf adalah sebanyak Rp 6.22 T semuanya berbentuk dinar dan batangan emas murni dan ditambah aset berupa 100 ekor unta, 100 ekor kuda dan 3000 ekor kambing.

Begitu juga dengan Sahabat Nabi yang bernama Az Zubair Bin Awwam, Utsman Bin Affan , Thalhah Bin Ubaidillah adalah beberapa para Sahabat yang menduduki tingkat atas dari kalangan Sahabat Super Kaya.

Rezeki yang diberkahi adalah ketika dia tidak merenggut nikmatnya beribadah, tidak membabat habis kesehatannya dan tidak merampas seluruh waktunya.

Menabung Untuk Sebuah Tujuan

Harta tidak akan bertambah dengan ditimbun dan tidak bermanfaat untuk orang lain jika terlalu lama disimpan. Bahkan dalam Al Quran disebutkan celaka bagi orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, seakan harta tadi akan membuat dirinya kekal di dunia.

Pastikan kamu memiliki tujuan yang jelas dari tabungan yang kamu simpan. Jika saat ini kamu punya usaha tapi status kamu adalah mahasiswa, simpanlah hasil usaha untuk rencana masa depan kamu. Jika kamu single simpan hasil kerja keras kamu untuk  modal pernikahan. Jika kamu menikah dan berpenghasilan, tabung hasil usaha kamu untuk biaya melahirkan, sekolah anak, memiliki kendaraan dan rumah. Semua harus ada peruntukannya dan perencanaan jumlahnya.

Jika masih ada kelebihan harta dari kebutuhan di atas, jangan disimpan begitu saja. Tapi gunakan untuk investasi menjadi unit bisnis baru agar roda ekonomi umat berputar dan lapangan pekerjaan terbuka. Karena menabung harus ada tujuannya.

Jangan Crazy Kalau Sudah Rich

Tidak salah menjadi OKB (Orang Kaya Baru) dari hasil kerja keras kamu selama ini. Kamu berhak menikmati dan mensyukurinya dengan cara memberi self reward terhadap diri sendiri. Membeli pakaian terbaik, kendaraan baru, gadget keluaran teranyar, atau membeli rumah bagus adalah salah satu cara mensyukuri nikmat yang Allah beri.

Hanya saja kamu perlu berhati-hati dari sifat berlebih-lebihan seperti membeli barang-barang baru yang tidak  kamu butuhkan dan terlalu boros dalam pengeluaran. Karena nanti pada hari dimana semua amal dan perbuatan dihisab kita akan ditanya dua kali terkait masalah harta, darimana dia didapatkan dan kemana dia dikeluarkan.

“Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605.)

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan